Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
eproduk
Kalender Tanam

Video Inovasi

Video Lainnya

Waktu Banten

Jumlah Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday66
mod_vvisit_counterYesterday447
mod_vvisit_counterThis week66
mod_vvisit_counterLast week3330
mod_vvisit_counterThis month12294
mod_vvisit_counterLast month11160
mod_vvisit_counterAll days325678
Talas Beneng, Pangan Lokal dari Banten PDF Cetak E-mail
Oleh Syahrizal Muttakin   
Jumat, 26 Maret 2010 14:19
SURAT KABAR BERKAH
Edisi nomor 254, 23-28 Pebruari 2010
Oleh : Syahrizal Muttakin dan Mewa Ariani

Program pembangunan pertanian lima tahun ke depan (2009-2014) masih konsisten untuk rneningkatkan kemandirian pangan. Visi Departemen Pertanian adalah Pertanian Industrial Unggul Berkelanjutan yang Berbasis Sumberdaya Lokal untuk Meningkatkan Kemandirian Pangan, Nilai Tambah, Ekspor dan Kesejahteraan Petani. Dengan target empat sukses pertanian yaitu : 1) Swasembada berkelanjutan, 2) Diversifikasi pangan, 3) Nilai tambah, daya saing dan ekspor ,serta 4) Peningkatan kesejahteraan petani.
Diversifikasi pangan mempunyai peranan yang sangat penting dalam upaya peningkatan ketahanan pangan dan perbaikan gizi untuk mendapatkan manusia yang berkualitas. Dalam aspek makro, peranan diversifikasi pangan dapat dijadikan sebagai instrument kebijakan untuk mengurangi ketergantungan pada beras sehingga mampu meningkatkan ketahanan pangan nasional dan instrument peningkatan produktivitas kerja melalui perbaikan gizi masyarakat
Pola diversifikasi pangan dapat diwujudkan sesuai dengan kekayaan keanekaragaman hayati yang dimiliki. Secara tradisional pola makan masyarakat Indonesia berbeda-beda. Kita mengenal pola makanan pokok jagung, jagung bercampur beras, ubi kayu, ubi jalar, sagu dengan perangkat lauk-pauknya yang berbeda-beda sesuai derigan potensi daerah. Tetapi pada umumnya pola makan ini belum dikembangkan secara baik, belum banyak disentuh oleh teknologi sehingga memiliki status ekonomi dan sosial budaya yang rendah. Padahal dalam memenuhi permintaan konsumen, salah satu faktor yang sangat penting dalam mensukseskan program diversifikasi konsumsi pangan adalah melaksanakan product development.
Pangan lokal seperti jagung, umbi-umbian dan sagu sebetulnya mempunyai prospek yang cukup luas untuk dikembangkan sebagai substitusi beras dan untuk diolah menjadi makanan bergengsi. Kegiatan ini memerlukan dukungan pengembangan teknologi proses dan pengolahan serta strategi pemasaran yang baik untuk mengubah image pangan inferior menjadi pangan normal bahkan superior.
Hasil kesepakatan pertemuan para Dewan Ketahanan Pangan (DKP) tingkat provinsi dan kabupaten/kota salah satunya adalah meningkatkan kuantitas dan kualitas konsumsi pangan melalui optimalisasi pemberdayaan pangan tokal. Upaya ini ditempuh antara lain melalui pengembangan pangan lokal non beras (sumber karbohidrat) serta sumber protein nabati dan hewani (ternak dan ikan) dan pengembangan teknologi pengolahan pangan dan kuliner untuk mendukung diversifikasi pangan berbasis sumberdaya lokal.
Di Provinsi Banten, pola pangan pokok masyarakat adalah beras. Tingkat konsumsi beras cukup tinggi mencapai sekitar 110 kg/kapita/tahun. Tingginya konsumsi beras ini dapat berdampak negatif terhadap pemantapan ketahanan pangan. Dalam operasional pelaksanaan program diversifikasi pangan, pemerintah menetapkan indikator penurunan konsumsi beras secara bertahap sehingga sampai tahun 2014, hanya 94 kg/kapita/tahun dan peningkatan skor Pola Pangan Harapan (PPH) dari 81,9 menjadi 93,3.
Oleh karena itu pengembangan pangan lokal adalah mutlak diperlukan sebagai alternatif pangan pokok dan makanan selingan. Di Kelurahan Juhut, Kecamatan Karang Tanjung, Kabupaten Pandeglang tumbuh tanaman liar yang masyarakat sekitar menyebutnya sebagai "Talas Beneng (Besar dan Koneng)" dengan luas sekitar 250 hektar. Tanaman ini memiliki umbi yang dapat mencapai berat 20 kg dalam umur 2 tahun. Selama ini masyarakat memanfaatkan umbinya sebagai makanan selingan dengan cara dikukus. Pengolahan produk yang dilakukan masyarakat setempat juga masih cenderung konvensional seperti keripik dengan sentuhan teknologi sederhana dan tidak dikomersialisasikan. 
Padahal, kandungan zat gizi talas beneng relatif tidak berbeda dengan pangan lokal lainnya seperti jagung dan umbi-umbian. Talas Beneng mempunyai kandungan protein sebesar 2,01 %, karbohidrat 18,30 %, pati 15,21 %, katori 83,7 kkal, serat kasar 0,73 % dan lemak 0,27 %. Hanya saja kadar oksalat pada talas beneng masih lebih tinggi dibandingkan talas lainnya. Dengan demikian talas beneng memiliki potensi sebagai bahan pangan lokal substitusi beras dan tepung terigu. BKPD bekerjasama dengan BPTP Banten untuk meningkatkan nitai sosial talas beneng melalui product development dan pemasyarakatan hasil pengolahannya dalam berbagai kesempatan seperti pertemuan-pertemuan, rapat dan lain-lainnya. Sudah sekitar 11 jenis olahan dan talas beneng yang diperkenalkan kepada masyarakat dalam bentuk beraneka ragam kue (donat, cake, brownis, mustofa), aneka kripik dan bubur sumsum yang diberi nama "burbenis". Peningkatan citra talas beneng melalui sentuhan teknologi tidak hanya bertujuan untuk melaksanakan diversifikasi produk dan konsumsi pangan tetapi juga peningkatan pemberdayaan masyarakat melalui pelatihan, pendampingan, pemberian bantuan peralatan dan pemasaran, yang pada akhirya peningkatan kesejahteraan masyarakat.
LAST_UPDATED2
 

Success Story

Joomla Templates by JoomlaVision.com